Wednesday, October 9, 2013

INSTRUMEN TES


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.           INSTRUMEN TES

Teknik tes merupakan suatu kenyataan bahwa manusia dalam hidupnya berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya. Tidak ada dua individu yang persisi sama, baik dari segi fisik maupun segi psikisnya.

Dengan adanya perbedaan individu itu, maka perlu diciptakan alat untuk mendiagnosis atau mengukur keadaan individu, dan alat pengukur itulah yang lazim disebut tes. Dengan alat pengukur itulah yang berupa tes tersebut, maka orang akan berhasil mengetahui adanya perbedaan antar individu. Karena adanya aspek psikis yang berbeda-beda yang dapat membedakan individu yang satu dengan individu yang lain, maka kemudian timbul pula bermacam-macam tes.

1.             Pengertian Tes

Secara harfiah, kata “tes” berasal dari bahasa Perancis Kuno : testum dengan arti :”piring untuk menyisihkan logam-logam mulia, dalam bahasa Inggris ditulis dengan test yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “tes”,”ujian”,atau”percobaan”. Testing berarti saat dilaksanakannya atau peristiwa berlangsungnya pengukuran dan penilaian. Tester adalah orang yang melaksanakan tes atau pembuat tes. Testee adalah pihak yang dikenai tes (peserta tes).

Dari segi istilah, menurut  Anne Anastasi dalam karya tulisnya berjudul Psychological Testing, yang dimaksud dengan tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.

Dalam dunia evaluasi pendidikan, yang dimaksud dengan tes adalah cara atau prosedur dalam pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas/baik berupa pertanyaan-pertanyaan (yang harus dijawab), atau perintah-perintah oleh testee, sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee, nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai oleh testee lainnya, atau dibandingkan dengan nilai standar tertentu.

 

2.             Persyaratan Tes

Tes diusahakan mengikuti aturan tentang suasana, cara, dan prosedur yang telah ditentukan namun tes itu sendiri mengandung kelemahan-kelemahan.Syarat tes :

a.                  Adakalanya tes (secara psikologis terpaksa) menyinggung pribadi seseorang

b.                  Tes menimbulkan kecemasan sehingga mempengaruhi hasil belajar

c.                  Tes mengategorikan siswa secara tetap

d.                 Tes tidak mendukung kecemerlangan dan daya kreasi siswa

e.                  Tes hanya mengukur aspekk tingkah laku yang sangat terbatas

 

3.             Klasifikasi Tes

Tes dapat diklasifikasikan atas :

a.       Bagaimana ia diadministrasikan (tes individual atau kelompok)

b.      Bagaimana ia di skor (tes objektif atau tes subjektif)

c.       Respon apa yang ditekankan (kemampuan atau kecepatan)

d.      Tipe respon yang bagaimana yang harus dikerjakan subjek (tes unjuk kerja atau tes kertas dan pensil )

e.       Apa yang akan diukur (tes sampel atau tes sign)

f.       Hakikat dari kelompok yang akan diperbandingkan ( tes buatan guru atau tes baku)

 

4.             Ciri – Ciri Tes

Tes memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a.               Validitas

b.               Reliabilitas

c.               Objektifitas

d.              Praktis

e.               Ekonomis

 

5.             Penggolongan Tes

                     Berdasarkan fungsi :

a.            Tes seleksi

Tes seleksi sering dikenal dengan istilah “ujian saringan” atau “ujian masuk”. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon siswa baru, dimana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong paling baik dari sekian banyak calon yang mengikuti tes.

Sebagai tindak lanjut dari hasil tes seleksi, maka para calon yang dipandang memenuhi batas persyaratan minimal yang telah ditentukan dinyatakan sebagai peserta tes yang lulus dan dapat diterima sebagai siswa baru, dinyatakan tidak lulus dan karenanya tidak dapat diterima sebagai siswa baru.

b.         Tes awal

Tes awal sering dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh para peserta didik. Jadi tes awal adalah tes yang dilaksanakan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik. Karena itu maka butir-butir soalnya dibuat yang mudah-mudah.

Setelah tes awal berakhir, maka sebagai tindak lanjutnya adalah :

a)         Jika dalam tes awal itu semua materi yang ditanyakandalam tes sudah dikuasai dengan baik oleh peserta didik, maka materi yang telah ditanyakan dalam tes awal itu tidak diajarkan lagi,

b)        Jika materi yang dapat dipahami oleh peserta didik baru sebagian saja, maka yang diajarkan adalah materi pelajaran yang belum cukup dipahami oleh para peserta didik tersebut.

                          c.   Tes akhir

       Tes akhir sering dikenal dengan istilah post-test. Tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik.

d. Tes diagnostik

Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk menentukan secara tepat. Jenis kesukaran yang dihadapi oleh para peserta didik dalam suatu pelajaran tertentu. Dengan diketahuinya jenis-jenis kesukaran yang dihadapi oleh para peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu. Dengan diketahuinya jenis-jenis kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik itu maka lebih lanjut akan dapat dicarikan upaya berupa pengobatan yang tepat. Tes diagnostik juga bertujuan ingin menemukan jawab atas pertanyaan “apakah peserta didik sudah dapat menguasai pengetahuan yang merupakan dasar atau landasan untuk dapat menerima pengetahuan selanjutnya?”.

Materi yang ditanyakan dalam tes diagnostik pada umumnya ditekankan pada bahan-bahan tertentu yang biasanya atau menurut pengalaman sulit dipahami siswa. Tes jenis ini dapat dilaksanakan secara lisan, tertulis, perbuatan atau kombinasi dari ketiganya.

    e.  Tes formatif

Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah terbentuk” setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

Tes formatif ini biasanya dilaksanakan di tengah-tengah perjalanan program pengajaran, yaitu dilaksanakan pada setiap kali satuan pelajaran atau subpokok bahasan berakhir atau dapat diselesaikan. Di sekolah-sekolah tes formatif ini biasa dikenal dengan istilah “ulangan harian”.

Tindak lanjut yang perlu dilakukan setelah diketahuinya hasil tes formatif adalah :

a)         Jika materi yang diteskan itu telah dikuasai dengan baik, maka pembelajaran dilanjutkan dengan pokok bahasan yang baru.

b)        Jika ada bagian-bagian yang belum dikuasai, maka sebelum dilanjutkan dengan pokok bahasan baru, terlebih dahulu diulangi atau dijelaskan lagi bagian-bagian yang belum dikuasai oleh peserta didik.

f.   Tes sumatif

Tes sumatif adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan. Tes sumatif dilaksanakan secara tertulis, agar semua siswa memperoleh soal yang sama. Butir-butir soal yang dikemukakan dalam tes sumatif ini pada umumnya juga lebih sulit  atau lebih berat  daripada butir-butir soal tes formatif.

Yang menjadi tujuan utama tes sumatif adalah untuk menentukan nilai yang melambangkan keberhasilan peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

               Berdasarkan Aspek Psikis :

a)      Tes intelegensi, yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.

b)      Tes kemampuan, yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh testee.

c)      Tes sikap, yakni salah satu jenis tes yang dipergunakan untuk mengungkap predisposisi atau kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun obyek-obyek tertentu.

d)     Tes kepribadian, yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkap ciri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya bersifat lahiriah.

e)      Tes hasil belajar, yang juga sering dikenal dengan istilah tes pencapaian, yakni tes yang biasa digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian atau prestasi belajar.

                Penggolongan Lain – Lain

    Dari Segi Yang Mengikuti Tes:

a)        Tes individual

Yaitu tes dimana tester hanya berhadapan dengan satu orang testee saja.

b)        Tes kelompok

Yaitu tes dimana tester berhadapan dengan lebih dari satu orang testee.

                      Dari segi waktu :

a)      Power tes

yakni tes dimana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi.

b)      Speed tes

yaitu tes dimana waktu  yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi.

                  

                      Dari segi responnya :

a)      Verbal tes ,

 yakni suatu tes yang menghendaki respon yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun secara tertulis.

b)      Non verbal tes,

yakni tes yang menghendaki respon dari testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku, jadi respon yang dikehendaki muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.

 Dari cara mengajukan tanya – jawab

a)                  Tes tertulis

yakni jenis tes dimana tester  dalam mengajukan butir-butir pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis dan testee memberikan jawabannya juga secara tertulis.

b)                  Tes lisan

yakni tes dimana didalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soalnya dilakukan secara lisan dan testee memberikan jawabannya secara lisan pula.

 

7.             Fungsi Tes

1)        Fungsi Untuk Kelas

a.         Mengadakan diagnosis terhadap kesulitan belajar siswa

b.        Mengevaluasi celah antara bakat dengan pencapaian

c.         Menaikkan tingkat prestasi

d.        Mengelompokkan siswa dalam kelas pada waktu metode kelompok

e.         Merencanakan kegiatan proses belajar mengajar untuk siswa secara perorangan

f.         Menetukan siswa mana yang memerlukan bimbingan khusus

g.        Menentukan tingkat pencapaian untuk setiap anak

           

2)        Fungsi Untuk Bimbingan

a.         Menentukan arah pembicaraan dengan orang tua tentang anak mereka

b.        Membantu siswa dalam menentukan pilihan

c.         Membantu siswa mencapai tujuan pendidikan dan jurusan

d.        Memberi kesempatan kepada pembimbing, guru, dan orang tua dalam memahami kesulitan anak

 

3)        Fungsi Untuk Adminitrasi

a.         Memberi petunjuk dalam mengelompokkan siswa

b.        Penempatan siswa baru

c.         Membantu siswa memilih kelompok

d.        Menilai kurikulum

e.         Memperluas hubungan masyarakat

f.         Menyediakan informasi untuk badan-badan lain

 

8.             Bentuk – Bentuk Tes

1)        Tes Subjektif

Pada umunya berbentuk esai (uraian). Tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata.

Kelebihan tes subjektif :

a.       Mudah disiapkan dan disusun

b.      Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan

c.       Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus

d.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya denga gaya bahasa dan cara sendiri

e.       Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang diteskan

Kelemahan tes subjektif :

a.       Kadar validitas dan realibilitasnya rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari siswa yang betul-betul telah dikuasai

b.      Kurang representative dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa buah saja

c.       Kurang representative dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa buah saja

d.      Cara pemeriksaannya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif

e.       Pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual

f.       Waktu untuk mengoreksinya lama dan dapat diwakilkan kepada orang lain.

 

2)        Tes Objektif

Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk esai.

Kelebihan tes objektif :

a.       Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif, lebih representative mewakili isi yang luas

b.      Lebih mudah dan cepat cara pemeriksaannya

c.       Pemeriksaannya dapat diserahkan kepada orang lain

d.      dalam pemeriksaannya tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi.

Kelemahan tes objektif:

a.       Persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit daripada esai karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain

b.      Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenal kembali saja, dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi

c.       Banyak kesempatan untuk main untung-untungan

d.      “Kerja sama” antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka

 

 

B.            INSTRUMEN NON TES

Pada bab terdahulu, sudah disebutkan bahwa salah satu cara untuk mengukur kemampuan siswa adalah dengan tes dengan berbagai variasinya. Tapi perlu diketahui bahwa tes bukanlah satu-satunya cara untuk melakukan evaluasi hasil belajar siswa, teknik lain yang dapat dilakukan adalah teknik non tes. Dengan teknik ini evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa menguji peserta didik tersebut, melainkan dilakukan dengan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), penyebaran angket (questionnaire), memeriksa atau meneliti dokumen-documen (documentari analysis). Teknik non tes ini memegang peranan penting terutama dalam rangka evaluasi hasil belajar peserta didik dalam ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah keterampilan (psychomotoric domain), sedangkan teknik tes sering digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah berfikirnya (cognitive domain).

1)             Pengamatan (Observasi)

Secara umum, pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan cara pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang dijadikan sasaran pengamatan.

Observasi dapat dilakukan secara partisipasif dan non partisipatif.pada observasi partisipatif, observer melibatkan diri ditengah-tengah observe. Sedangkan pada observasi nonpartisipatif, observer bertindak sebagai penonton saja. Observasi juga dapat bersifat eksperimental, yang dilakukan dalam situasi buatan atau yang dilakukan dalam situasi yang wajar. Sedangkan observasi sistematis dilaksanakan dengan perencanaan yang sangat matang.

Observasi atau pengamatan dapat dilakukan dalam berbagai cara. Berdasarkan cara dan tujuan, observasi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

1.      Observasi partisipatif dan nonpartisipatif

Observasi partisipatif adalah yaitu observasi yang dilakuakan oleh pengamat diamna pengamat sendiri memasuki atau mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati. Sedangkan observasi nonpartisipatif, observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka.

Contoh observasi partisipatif : Misalnya guru mengamati setiap anak. Kalau observasi nonpartisipatif, guru hanya sebagai pengamat, dan tidak ikut bermain.

2.      Observasi sistematis dan observasi nonsitematis

Observasi sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur sruktur yang berisi kategori atau kriteria, masalah yang akan diamati Sedangkan observasi nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur ketegori yang akan diamati.

Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mengamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati, misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasama dan kebersihan. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga. Kalau observasi nonsistematis maka guru tidak membuat kategori-kategori diatas, tetapi langsung mengamati anak yang sedang menanam bunga.

3.      Observasi Eksperimental

Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakukan secara nonpartisipatif tetapi sistematis. Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja diadakan.

Sebagai alat evaluasi , observasi digunakan untuk:

1.      Menilai minat, sikap dan nilai yang terkandung dalam diri siswa.

2.      Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa maupun kelompok.

3.      Suatu tes essay / obyektif tidak dapat menunjukan seberapa kemampuan siswa dapat menjelaskan pendapatnya secara lisan, dalam bekerja kelompok dan juga kemampuan siswa dalam mengumpulkan data

Langkah-langkah Pengembangan Observasi

1.      Merumuskan tujuan

2.      Merumuskan kegiatan

3.      Menyusun langkah-langkah

4.      Menyusun kisi-kisi

5.      Menyusun panduan observasi

6.      Menyusun alat penilaian

Dalam evaluasi hasil belajar dimana mempergunakan observasi nonsistematis, yaitu observasi dimana observer atau evaluator dalam dalam melakukan pengamatan dan pencatatan tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang pasti. Maka kegiatan observasi hanya dibatasi oleh tujuan dari observasi itu sendiri.

Contoh: seorang guru mengadakan observasi pada beberapa mushola, guna mengetahui dan kemudian menilai keaktifan siswa-siswanya dalam menjalankan ibadah shalat taraweh dan witir.

Kelebihan dari observasi adalah:

a.             Data observasi didapatkan langsung dari lapangan, data yang demikian bersifat objektif dalam melukiskan aspek-aspek kepribadian peserta didik menurut kenyataannya.

b.             Data observasi mencakup berbagai aspek kepribadian masing-masing individu peserta didik.

Kelemahan dari observasi adalah:

a.             Jika guru kurang cakap dalam melakukan observasi, maka observasinya menjadi kurang dapat diyakini kebenarannya.

b.             Kepribadian dari observer atau evaluator seringkali mempengaruhi penilaian yang dilakukan dengan cara observasi.

c.             Data yang diperoleh dari observasi umumnya baru mengungkap “kullit luar”nya saja.

 

2)             Wawancara ( Interview)

Secara umum wawancara adalah cara menghimpun keterangan yang dilaksanakan dengan cara tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.

Dua jenis wawancara yang yang dapat digunakan sebagai alat evaluasi adalah:

a.             Wawancara terpimpin (guided interview) yang dikenal dengan wawancara berstruktur atau wawancara sistematis. Pada wawancara sistematis evaluator melakukan Tanya jawab lisan dengan peserta didik, orang tua peserta didik untuk menghimpun keterangan yang diutuhkan untuk proses penilaian terhadap peserta didik tersebut. Wawancara ini dipersiapkan secara matang dengan berpegang pada panduan wawancara.

b.             Wawancara tidak terpimpin (un-guided interview) yang dikenal dengan wawancara bebas, wawancara sederhana atau wawancara tidak sistematis. Dalm wawancara ini pewawancara selaku evaluator mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik atau orang tua peserta didik tanpa dikendalikan oleh pedoman tertentu.

 

Kelebihan dari wawancara adalah:

a.             Pewawancara dapat berkomunikasi langsung dengan peserta didik sehingga menghasilkan penilaian yang lengkap dan mendalam.

b.             Peserta didik dapat mengeluarkan isi hatinya secara lebih bebas.

c.             Data yang didapat dapat berupa data kualitatif dan data kuantitatif.

d.            Pertanyaan yang kurang jelas dapat diulang dan dijelaskan kembali dan jawaban yang belum jelas dapat diminta lagi penjelasannya biar lebih terarah.

e.             Wawancara dapat dilengkapi dengan alat bantu agar data yang didapat bisa dicatat dengan lebih lengkap.

 

Kelemahan dari wawancara adalah: Jika wawancara yang dilakukan adalah wawancara bebas, maka kelemahannya terletak pada pertanyaan dan jawaban yang beraneka ragam dan terkadang tidak terarah kepada focus evaluasi

 

3)             Angket (Questionnaire)

Angket adalah suatu alat evaluasi yang digunakan  untuk mengungkap latar belakang peserta didik/ orang tua peserta didik, menemukan kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran, motivasi belajar, fasilitas belajar dan lain sebagainya.

Kelebihan angket dibandingkan wawancara dan observasi adalah:

a.             Pegumpulan data jauh lebih praktis

b.             Menghemat waktu dan tenaga.

 

Kekurangan angket diantaranya adalah:

a.             Jawaban yang diberikan seringkali tidak sesuai dengan kenyataan.

b.             Pertanyaan yang disajikan sering kurang tajam, mengakibatkan jawaban yang diberikan diperkirakan hanya untuk melegakan pihak penilai.

Contoh : ANGKET MINAT SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran      :……………

Kelas/ Semester     :……………

Hari/tanggal          : ……………

Petunjuk :

  1. Pada angket ini terdapat 5 pernyataan. Pertimbangkan baik-baik setiap pernyataan dalam kaitannya dengan materi pembelajaran yang baru selesai kamu pelajari, dan tentukan kebenaranya.
  2. Berilah jawaban yang benar sesuai dengan pilihanmu.
  3. Pertimbangkan setiap pernyataan secara terpisah dan tentukan kebenarannya. Jawabanmu jangan dipengaruhi oleh jawaban terhadap pernyataan lain.
  4. Catat responmu pada lembar jawaban yang tersedia, dan ikuti petunjuk-petunjuk lain yang mungkin diberikan berkaitan dengan lembar jawaban. Terima kasih.

Keterangan pilihan jawaban:

1.      = sangat tidak setuju

2.      = tidak setuju

3.      = ragu-ragu

4.      = setuju

5.       = sangat setuju

NO
Pertanyaan
Pilihan Jawaban
1
2
3
4
5
1.
Saya merasa bahwa pembelajaran ini memberikan banyak kepuasan kepada saya
 
2.
Dalam pembelajaran ini, saya mencoba menentukan standar keberhasilan yang sempurna
 
3.
Saya berpendapat bahwa nilai dan penghargaan lain yang saya terima adalah adil jika dibandingkan dengan yang diterima oleh siswa lain
 
4.
Siswa di dalam pembelajaran ini tampak rasa ingin tahunya terhadap materi pelajaran
 
5.
Saya senang aktif dalam pembelajaran ini
 

 

4)             Pemeriksaan Dokumen (Documentary Analysis)

Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan, atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji juga dapat dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen seperti infornasi mngenai riwayat hidup peserta didik atau pun orang tua peserta didik. Informasi - informasi tersebut dapat direkam melalui sebuah dokumen berbentuk formulir yang harus diisi oleh peserta didik saat pertama kali diterima sebagai siswa di sekolah yang bersangkutan.

5)         Skala Sikap

Tes skala sikap adalah perasaan suka atau tidak suka atau kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu atau objek. Seperti : sikap terhadap materi pelajaran, guru, proses pembelajaran, norma-norma tertentu dan sebagainya.

Penilaian tes skala sikap atas 3 komponen berikut :

a)      Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap objek.

b)      Komponen kongnisi adalah kepercayaan atau keyakinan yang menjadi pegangan seseorang.

c)      Komponen konasi adalah kecenderunan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu terhadap sesuatu objek.

Contoh soalnya sebagai berikut :

No
Pernyataan
SS
S
TS
STS
1.
 
2.
 
3.
4.
Mau menerima pendapat orang lain meupakan ciri bertoleransi
Untuk mewujudkan cita-cita harus memaksakan kehendak
Saya suka menerima pendapat orang lain.
Bekerja sama dengan orang yang berbeda suku harus dihindarkan
Saya memilih teman disekolah saja dan mengutamakan yang pintar saja.

Keterangan : SS       = sangat setuju

S       = setuju

                        TS     = tidak setuju

                        STS   = sangat tidak setuju

6)      Portofolio

Pengertian Portofolio, Secara etimologi, portofolio berasal dari dua kata, yaitu port (singkatan dari report) yang berarti laporan dan folio yang berarti penuh atau lengkap. Jadi portofolio berarti laporan lengkap segala aktivitas seseorang yang dilakukannnya (Erman S. A., 2003 dalam Nahadi dan Cartono, 2007). Secara umum portofolio merupakan kumpulan dokumen seseorang, kelompok, lembaga, organisasi, perusahaan atau sejenisnya yang bertujuan untuk mendokumentasikan perkembangan suatu proses dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Portofolio dapat digunakan untuk menggambarkan mutu kinerja siswa yang ingin di evaluasi. Dibidang pendidikan portofolio juga banyak digunakan untuk tujuan pengumpulan data kinerja siswa. Secara definitif, fortofolio menurut Johnson dan Johnson (2002) dapat diartikan sebagai pengumpulan data secara terorganisasi yang dilakukan dalam periode waktu tertentu atas siswa atau perkembangan program kelompok mahasiswa, pencapaian keterampilan atau sikap.

Portofolio dapat berupa sekumpulan file yang terdiri atas topik pilihan tugas atau pekerjaan yang telah dan akan diselesaikan siswa dalam satu semester, satu tahun atau sejak masuk sampai selesai menjadi siswa atau mahasiswa, tergantung tujuan penggunaan portofolio tersebut. Alat ini juga dapat menggambarkan kinerja siswa dalam satu atau beberapa mata peajaran atau bahkan semua mata pelajaran yang telah dicapainya. Dilihat dari siapa sasarannya, portofolio dapat bervariasi misalnya untuk satu orang siswa maupun satu group siswa untuk satu orang portofolio. Di samping itu, portofolio dapat juga disimpan dalam map guru, dalam note book, kotak atau dalam CD.

Apa isi fortofolio? Pada prinsipnya, portofolio juga dapat berisi bermacam-macam informasi, misalnya untuk keperluan menyimpan data sekolah, maka dapat berisi semua mata pelajaran, atau bahkan semua nilai rapor siswa selama belajar disekolah tersebut.
Mengapa portofolio sampai sekarang masih banyak digunakan, diantara jawabannya dapat dilihat sebagai berikut :

1.      Portofolio dapat memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengarahkan potensi belajar mereka sesuai dengan kemampuan

2.      Menentukan tingkat pencapaian hasil belajar

3.      Mengetahui perkembangan usaha belajar siswa

4.      Portofolio dapat digunakan untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas kurikulum dan instruksional

Kegunaan portofolio sebenarnya masih banyak sekali sehingga para guru atau para administrator dapat mengembangkannya sesuai dengan bidang keahlian dan tujuan mereka.

Langkah-langkah menyusun instrumen non-tes portofolio

1.      Menetapkan tujuan portofolio

2.      Menetapkan prosedur pengembangan portofolio

3.      Melakukan tugas dan menyusun portofolio

4.      Merangkum dan melaporkan

5.      Mengadakan proses evaluasi

Contoh Portofolio


Nama   : ……………………                                                Kelas/No. : ............. / ...........
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem.
7.2 Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian ekosistem.
·         Membuat tulisan (Majalah dinding, “leaflet”, artikel) beserta foto/gambarnya, memperkenalkan jenis, bentuk, dan manfaat tumbuhan/hewan langka yang dilindungi.
·         Mendeskripsikan usahausaha yang dapat dilakukan manusia untuk pelestarian keanekaragaman hayati
 
Tugas Portofolio:
1.      Menulis sebuah artikel yang berkaitan dengan sains. Misalnya, membuat artikel singkat mengenai jenis-jenis tumbuhan dan hewan langka yang dilindungi, dengan melengkapkan bentuk/ciri khusus dan manfaat tiap jenis tumbuhan atau hewan langka ini. Tuliskan pula cara atau langkah perlindungan dan pelestarian yang dilakukan pemerintah terhadap hewan dan tumbuhan langka.
2.      Buat laporan untuk kegiatan ini beserta:
·         Bukti referensi (copy, printed/repro)
·         Jadwal pelaksanaan kegiatan pengumpulan
·         Data pengumpulan etiket (hari, tanggal, tempat pengambilan, dan sebagainya)
·         Lain-lain yang dianggap penting untuk disertakan sebagai bukti/informasi.
3.      Laporan dikumpulkan paling lambat minggu ke-4 bulan April 2008.

 

 

Jadwal kegiatan pelaksanaan penyusunan portofolio: (disusun bersama oleh guru dan kelompok siswa untuk: (1) memonitor pelaksanaan kegiatan; (2) mengevaluasi pelaksanaan kegiatan)
 
No
 
Kegiatan
Maret (minggu ke)
April (minggu ke)
 
Keterangan
3
4
1
2
3
4
1
Mendapat tugas
X
2
Merencanakan kegiatan
X
3
Monitoring ke 1
X
Melaporkan hasil pengumpulan tahap pertama.
4
Monitoring ke 2
X
Melaporkan hasil pengumpulan tahap pertama.
5
Pengecekan kelengkapan data dan bukti
X
6
Penyusunan laporan
x
7
Penjilidan laporan
x
8
Penyerahan laporan
x

 

Penilaian:

Nama siswa     : …………………                                Kelas/No.  : …………. / …………

Tanggal           : …………………

 

No.
Aspek yang Dinilai
Portofolio ke
1
2
3
1.
Latar Belakang Masalah/ pendahuluan
2.
Kajian Pustaka
3.
Ketajaman pembahasan/ analisis
4.
Penyimpulan/penutup
5.
Tata tulis dan bahasa
Skor Total

Keterangan: *) Skor maksimum untuk tiap aspek yang dinilai adalah:

1.      Latar belakang masalah, skor maksimum 10, dengan rincian:

·         Dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang runtut/redaksinya benar  (2,5)

·         Menunjukkan pentingnya masalah  (7,5)

2.      Pengkajian pustaka, skor maksimum 15, dengan rincian:

·         Isi relevan dengan permasalahan yang ada (5)

·         Dipungut/diambil dari sumber yang benar/dibenarkan (5)

·         Dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang runtut (2)

·         Cara penulisannya benar (3)

3.      Pembahasan, skor maksimum 25, dengan rincian:

·         Mampu menafsirkan / menganalisis data yang ada (10)

·         Menghubungkan antara data dengan pustaka sebagai referensi (10)

·         relevan dengan tujuan (5)

4.      Rumusan simpulan, skor maksimum 10, dengan rincian:

·         Relevan dengan permasalahan/tujuan (2,5)

·         Relevan dengan data dan pembahasannya (7,5)

5.      Tata tulis dan Bahasa

·         Tata tulis benar (15)

·         Bahasa menggunakan bahasa Indonesia Baku (10)

 (Total skor (maksimum) 90)

 

Nama  :
Kelas  :
Guru       :
Tanggal  :
Isi dari portofolio :
 
 
 
Kompetensi yang berkembang :
 
 
 
Komentar Guru :
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Tanda tangan guru

 

Lembar Penilaian Diri 

Nama  :
Kelas  :
Mata Pelajaran :
Tanggal            :
Sejauh ini saya belajar banyak tentang :
Saya ingin tahu lebih banyak tentang :
Besok saya akan belajar :
Saya senang belajar dengan cara :
Saya sulit memahami :
Di kelas saya termasuk :
 
Mengetahui Orang Tua/Wali                                      Tanda tangan dan nama siswa
 
 
..................................................                                      ..................................................

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

A.      Simpulan

Instrumen dapat dibagi dua yaitu tes dan non tes. Berdasarkan bentuk atau jenisnya, tes dibedakan menjadi tes uraian dan obyektif, sedangkan non tes terdiri dari observasi, wawancara (interview), angket (questionaire), pemeriksaan dokumen (documentary analysis), dan sosiometri.Instrumen hasil belajar bentuk tes uraian memiliki banyak keunggulan seperti mudah disusun, tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi dan mampu mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun jawaban dalam bentuk kalimat. Namun perdebatan di kalangan guru dan bahkan dikalangan orang tua, adalah memandang bahwa tes uraian sering tidak adil. Di saping itu penggunaan nontes untuk menilai hasil dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunaan alat melalui tes dalam menilai hasil dan proses belajar. Padahal ada aspek-aspek yang tidak bisa terukur secara “realtime” dengan hanya menggunakan tes, seperti pada mata pelajaran matematika.

B.       Saran

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang di temukan diatas, maka diperlukan adanya kombinasi dan suatu langkah-langkah untuk penyusunan dan pengembangan baik tes uraian maupun nontes. Hal ini juga dapat digunakan untuk memperoleh tes yang valid, sehingga hasil ukurnya dapat mencerminkan secara tepat hasil belajar atau prestasi belajar yang dicapai oleh masing-masing individu peserta tes setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmad Hisbullah.2012.Teknik Tes dan Non Tes dalam Evaluasi. http://www.tuanguru.com/ 2012/01/teknik-tes-dan-non-tes-dalam-evaluasi.html. Diakses pada tanggal 14 September 2013

 

Endang Poerwanti, dkk.2008.Asesmen Pembelajaran SD.Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

 

Muchlisin Ali.2011.Teknik Tes dan Teknik Nontes Sebagai Alat Evaluasi Hasil Belajar.http://inmuchlis.blogspot.com/2012/01/teknik-tes-dan-teknik-nontes-sebagai.html. Diakses pada tanggal 14 September 2013

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright 2013 Lestary's Note